Contoh Cerpen tentang Lingkungan Hidup Terbaru

Contoh Cerpen tentang Lingkungan Hidup – Cerpen merupakan jenis karangan naratif fiksi yang singkat. Cerpen berisi lukisan kejadian atau peristiwa yang terkait dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menulis cerpen, kamu harus memperhatikan unsur yang ada di dalamnya. Unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen adalah tema, alur, perwatakan, latar, tokoh, sudut pandang, dan lain-lain. Saat membuat cerpen, selain unsur kita juga harus memperhatikan struktur teks di dalamnya, yaitu bagian pendahuluan, isi atau klimaks cerpen, dan bagian akhir cerpen. Secara umum, cerpen dapat ditulis secara naratif. Secara umum alur yang digunakan adalah kronologis yang berarti menceritakan kejadian secara urut. Namun, ada dua jenis alur lainnya yang dapat juga digunakan, yaitu, alur mundur campuran. Untuk lebih jelas, perhatikan Contoh Cerpen tentang Lingkungan Hidup berikut ini.


Contoh Cerpen tentang Lingkungan Hidup


Gara-Gara Sampah

Musim hujan sudah dimulai seminggu yang lalu, masyarakat sudah mulai berbisik-bisik tentang masalah banjir. Ya, di daerahku sering sekali terjadi banjir saat musim hujan. Masalah banjir seperti menjadi masalah turun temurun yang tidak ada putusnya. Akhirnya, aku dan teman-teman mencoba menjari tahu apa penyebab banjsir ini. Rina, Delin, dan aku Cia. Meskipun kami masih kelas 5 SD tapi kami yakin kami bisa ikut serta membuat lingkungan kami menjadi lebih baik saat musim hujan. 

Pagi ini aku berangkat sekolah, cuaca masih mendung. Aku sengaja membawa payung karena takut akan turun hujan lagi saat pulang sekolah. Benar saja, belum saatnya pulang hujan sudah turun dengan lebatnya. 

Teng...teng....teng... 
Bel istirahat telah berbunyi. Aku bersama teman-teman keluar kelas untuk beristirahat di kantin. Genangan air mulai terlihat di sekitar kantin. Ternyata, banyak sampah yang aku lihat di sekitar kantin. Entahlah, bagaimana bisa banyak sampah makanan ringan di sana. Karena setahu aku, jadwal piket sudah ada sejak awal masuk sekolah. Aku mengabaikan genangan itu untuk sejenak. Aku pergi ke kantin untuk makan siang. Banyak teman-temanku yang berada di sana. Aku mengamati di sekitar kantin. Alangkah kagetnya aku, di sana banyak sekali teman-temanku yang membuang sampah sembarangan. Mulai dari sampah daur ulang maupun sampah organik. Namun, aku tidak berani menegur karena kebanyakan dari mereka adalah kakak tingkat dan pemilik kantin. 

Sudah hampir sebulan musim hujan melanda daerahku, genangan air mulai semakin tinggi. Aku menjadi lebih kawatir itu akan menjadi banjir dan mengganggu aktifitasku juga masyarakat daerahku. 

Hari ini aku takut untuk menegur dan menyalahkan tindakan mereka yang bagiku adalah kesalahan. Pikiran ini sangat menggangguku hingga pulang sekolah. 
“Cia, kenapa kamu melamun melihat hujan”, tanya Rina.
“Aku berpikir bagaimana caranya agar aku berani mengatakan hal benar kepada banyak orang”, kataku perlahan.
“Apa memangnya yang akan kamu katakan? Bilang kepada siapa?” tanya Rina dengan penuh penasaran.
“Aku ingin sekali bilang pada siapa saja yang membuang sampah sembarangan bahwa perbuatan itu tidak benar, aku tidak ingin lingkungan ini akan banjir karena ulah kita sendiri.” Jawabku.
Tak lama kemudian, Delin datang dengan dengan membawa makanan ringan. 
“Apa yang kalian bicarakan sepertinya serius sekali, ini kan sudah waktunya pulang. Sebaiknya kita pulang dengan berhujan-hujanan itu pasti seru.” Kata Delin dengan riang “ini aku bawakan cemilan” lanjutnya.

Belum sempat memjawab pertanyaan Delin, aku melihat Delin justru membuang sampah dari makanan yang ia bawa sembarangan. 
“Delin, janganbuang sampah sembarangan!” kataku spontan.
“Memangnya kenapa? Kan ada tukang bersih-bersih yang nantinya akan membersihkan smeuanya.” Jawabnya tenang.
“Kita tidak boleh hanya bergantung pada tukang bersih-bersih. Kebersihan juga harus dimulai dari diri-sendiri dan sejak dini.” Kataku dengan edikit emosi.
“Ah, apa sih Cuma satu sampah itu tidak akan menjadikan banjir bandang tau!” kata Delin. 
“Tapi sampah juga bisa menyebabkan banjir itu terjadi!” balasku.
“Eh Cia, banjir itu karena hujan bukan sampah. Lagian, aku yang buang sampah kok kamu yang ribut. Kalau kamu mau ambil sampah itu, ya ambil saja.” Katanya pedas.

Aku mengabaikan Delin dan berjalan sembari memungut sampah yang dibuang Delin tadi. Aku pulang dengan perasaan emosi, hingga aku tak sadar aku pulang dengan basah kuyup. Keesokan harinya, aku maish emosi bila mengingat perkataan Delin yang seakan tidak peduli dengan kebersihan lingkungan. 

Hari ini nampah cuaca berawan, aku hanya bisa berharap hujan tidak turun hari ini agar genangan yang sudah cukup mengganggu ini tidak semakin naik. 
“Cia, Cia....Ciaa.......”
Terdengar suara Delin memanggilku dari arah belakang, awalnya kau ingin mengabaikan, tapi aku cukup penasaran mengapa dia memanggilku seperti itu. Aku menoleh ke belakang dan mendapati fakta yang mengejutkanku.
“Kamu kenapa? Kenapa rokmu basah dan tidak memakai sepatu?” kataku penasaran.
“Kamu benar Cia, ternyata terlalu banyak sampah yang dibuang sembarangan akan menyumbat aliran air dan menyebabkan genangan hingga banjir.” Jelasnya.
“Lalu apa hubungannya dengan kondisimu sekarang?” tanyaku.
“Iya disekitar rumahku genangan airnya sudha cukup tinggi, bahkan untuk di tempat yang lebih rendah air sudah mencapai lututku” katanya.
“Oh jadi begitu, jadi apa rencanamu?” tanyaku perlahan.
“Aku akan ikut dengan semangatmu untuk menciptakan lingkungan bersih dan bebas banjir.” 
“Jadi kita akan memulai semua ini mulai diri kita sendiri, kluarga barulah orang-orang sekitar tempat kita.” Kataku semangat.
“Baiklah, tidak akan membuang sampah lagi ditempat yang salah, tapi akan memasukkannya dalam kotak sampah. Terima kasih sudah mengingatkanku teman.” Kata Delin sembari memungut bungkus plastik makanan yang ia buang tadi.
“Cia, ini kamu bisa dan berani berbicara seperti yang kamu inginkan.” Kata Rina.
“Iya juga, kamu benar Rina. Aku mungkin hanya butuh sedikit keberanian saja untuk bisa melakukannya. Dengan keberanian ini mungkin saja banjir yang biasanya terjadi lambat laun akan hilang.” Kataku dengan semangat.
“Bagaimana kalau kita bertiga yang menjadi pelopor kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan?” kata Delin.
“Ide bagus itu, kita bertiga akan menjadi pelopor untuk teman di sekolah dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal kita. Dengan begitu tidak ada lagi genangan yang bisa menyebabkan banjir.” Tambah Rina.
“Aku setuju, terima kasih teman-teman.” Kataku bersorak.

Mulai saat itulah aku berabi mengutarakan dan meminta siapa saja termasuk orangtuaku untuk tidak membuang sampah sembarangan. Hingga kini, aku dan teman-teman terus menggalakkan cintai lingkungan tanpa sampah berserakan membuat kami menjadi lebih akrab. Tak sia-sia, setelah hampir seminggu kami kompak semua wagra dan teman-teman mengikuti jejak kami dan genangan-genangan airpun mulai menyusut meskipun musim hujan.

Gara-gara sampah daerahku hampir terkena banjir dan berantem dengan temanku sendiri. Namun, ternyata dengan bersikap bijak dalam mengatasi masalah semua pasti akan baik-baik saja. 
Ingat, kita tidak boleh membuang sampah sembarangan. Karena sampah yang terlihat sangat sederhana, akan menjadi musibah bila tidak dikelola dengan baik. 

Demikian Contoh Cerpen tentang Lingkungan Hidup, dari contoh di atas kita dapat melihat adanya unsur yang dibutuhkan oleh cerpen. Dengan contoh di atas diharapkan kalian dapat lebih mudah dalam menulis cerpen. Jangan lupa kunjungi blog kami di bahasaindonesiaku.net ya. Ada banyak sekali artikel lainnya yang membahas tentang materi pelajaran bahasa Indonesia. Terima kasih
Contoh Cerpen tentang Lingkungan Hidup Terbaru | ikhwan mukhlisi | 5